Di tahun yang baru, setiap orang sibuk dengan membuat resolusi baru. Namun tidak bagi saya tahun ini. Bagi saya, 2025 sungguh ampas! Chaos! Meleduk!
Dan di tengah kegilaan yang terjadi di muka bumi ini, Mama saya berpulang. I am broken and empty.
Jika saya adalah planet Mars yang merah menyala, maka Mama adalah matahari. Saya dan seluruh kehidupan saya mengorbit pada Mama. Mama yang sangat hangat dan penuh keceriaan hati itu, akhirnya meninggalkan kami.
Bagi saya, saat itu, saya diajak semesta bermain kuis super deal. Dan ketika saya memilih tirai Merah-Putih, tadaaaa zoooonk! Sungguh memang manusia tidak boleh terlalu jumawa menginginkan segalanya. Dalam batin “Duh kalau misalnya pilih tirai Putih titik Merah mungkin cuman dapet hadiah kecil, tapi belum tentu se-zonk ini kan?”
Namun, konon Tuhan tidak akan mem-prank kita sekejam kuis miliaran di televisi. Dalam server saya setidaknya ada ayat dalam Quran surat Al-Insyirah, Ayat 6 : اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ yang berarti “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” Kata teman saya yang fasih berbahasa Arab, “kemudahan” pada ayat tersebut ditulis dalam bentuk jamak, sehingga secara teoritis, kemudahan yang datang haruslah lebih dari kesulitan yang ada.
Tapi sebagai manusia biasa, boleh juga kan sesekali bilang, “Ah, masa’ sih ?”
Bukan meragukan kuasa Illahi, cuman yaaa namanya manusia kan.
Memang, logika saya bisa menerima rasa lega dari kepergian Mama. Mama sudah tidak sakit lagi sekarang, dan udah bareng sama ayah, nenek, si’agam (Aceh: kakek) di alam sana. She is not lonely anymore. Lagipula, saya percaya bahwa Mama sudah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan sangat baik. And damn! She is soooo coooool! Entah ilmu kadigjayaan apa yang Beliau punya, hingga sebagai single mother yang terkena stroke dan diabetes selama lebih dari 1 dekade, bisa membesarkan anak-anaknya hingga bisa selesai kuliah semua. Jika saya di posisi Beliau, entahlah… mungkin anak-anak saya sudah jadi pengedar narkoba seperti pada film-film mafia. Jika Beliau tidak memperoleh singgasana terbaik di surga, saya pasti akan demo besar-besaran di akhirat.
Tapi lagi-lagi, sebagai manusia biasa, hati saya tidak bisa sepenuhnya move on, “It is hurt, ini sedih banget… kenapa hidup begitu tragis! Bisa loh yang dipanggil duluan pejabat korup, bukan Mama. Ini kok pejabat korup malah sehat-sehat aja. Apa kek, kepleset gitu di kamar mandi.”
Yang lebih naas lagi, 2024 itu saya pergi umroh dan dari semua doa yang saya panjatkan, yang paling sering saya ulang adalah: Kesembuhan Mama.
Tuhan memang maha bercanda… Memaaaaang, saya ingin Mama full sembuh, tapi gak usah langsung dipanggil gitu dong ya Allah. Ini kaget loh ini…
Namun bukanlah Marissa “Emon” jika melenyot begitu saja. Ohohohohoho… akan tetap kuarungi dunia ini walau sudah codet-codet sekujur tubuh.
Kalau kata sensei saya di Jepang dulu, “When you feel stuck, find and do something new.” Sebuah ide yang sangat bijaksana. Namun saya, energi saya sudah terkuras seperti dihirup oleh dementor sepeninggal Mama di pertengahan tahun.
Maka strategi saya saat itu adalah : konsisten.
Ok, it gonna be hard, tapi tekad saya jelas… bertahan! Apapun yang saya lakukan, akan terus saya lakukan. Mungkin hasilnya gak akan sebaik my default mode, tapi masa’ sih jiwa-raga ini bodoh-bodoh banget. Dulu, sewaktu saya sekolah, dan saya merasa saya kok sulit banget ya menyerap ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang ada di muka bumi ini, Mama saya bilang “Pokoknya sit-in aja, duduk aja dulu. Nanti pelajari lagi terus-menerus. Lama-lama juga bisa sendiri. Yang penting kalau mau apa-apa itu konsisten aja dulu. Jangan langsung nyerah.”
Karena perkataan Mama itu hanya satu level di bawah titah Yang Maha Kuasa, maka oke! Saya nurut aja dulu. Saya mencoba menjalani hidup seperti biasa, dan bahkan ketika demotivasi melanda, gas terus!
Dan, hey! 2025 wasn’t that bad!
Saya berhasil mengatasi itu semua. Dan di tengah cemong-cemong bergulatan dengan karir dan takdir, saya mendadak menjadi pelari, penari, bahkan perenang.
Sebagai manusia biasa, izinkan saya untuk : menyombongkan diri ! 😀
Berlari
Permisi… permisi… udah liat statistik tante emon di Strava ? Uhuk… gak kalcer, tapi kalau buat riya’ doang sih, yaaah cukup lah untuk bikin geli jiwa mager kalian semua. UWAHAHAHAHHAAHAA!
total distance 1,207 km itu cukup mengagetkan sih. Itu kan berarti rata-rata 100 km per bulan. Woooooh… rajin sekali. Entah apa yang terjadi, seingat saya, saya hanya 4x ikut event half marathon di tahun 2025. But that’s it… sisanya lari-lari kecil, kadang jalan, pokoknya gak sekalcer itu.
Dulu, pernah ada sebuah app lari yang didalamnya ada semacam “coach virtual” yang memberikan instruksi untuk kita berlari. Nah, saya saat itu menggunakan fitur tersebut dan saya ingat betul coach virtual ini bilang “It is not about being fast or slow, it is about showing up, it is about giving you a time just for yourself.” Terus Mbak coach virtual ini terus menyemangati kita, berasa kayak denger podcast lah. Lalu dia bilang lagi, “You know what, I start running when I moved to the new place. I felt lonely. But then, since I run every morning, I started to know around. I know where is the best corner in my surroundings.”
Dan berlari memang waktu bagi saya untuk secara sungguh-sunguh memikirkan diri saya sendiri. Kapan merasa terengah-engah, merasa ada yang tidak beres dengan heart rate, merasa kaki kurang oke. Pada saat yang sama, itu adalah waktu bagi saya memperhatikan sekitar. Hal sesederhana liat kucing lucu di pinggir jalan, pohon-pohon di komplek, tempat jajan nasi uduk, pedagang air mineral, hal-hal kecil itu semua… entah kenapa rasanya menyenangkan untuk memperhatikan itu.
I don’t give a f*ck*ng sh*t to my pace or whatever. Visi saya jelas dan terang benderang, I want to enjoy my running moment. Udah, itu aja…
Saya senang ikut race, bukan karena adrenalin yang diciptakan, tapi lebih karena “Woh tempat baru, ada hal menarik apa di tempat ini.” atau “Eh belum coba rute ini, gimana ya rasanya.” Dan anehnya, saya sebenarnya lebih menikmati moment latihan dibandingkan ikut race ini itu. Berlatih membuat saya punya alasan untuk terus bergerak dan cermat dalam mengatur waktu. Berlatih membuat saya punya tanggung jawab untuk dipenuhi. As a bonus, punya pelatih dan teman yang menarik dan berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. And for me, it is fun!
Menari
Dari semua bidang seni, nari adalah momok bagi seorang Emon. Tapi entah mengapa Mama dari dulu maunya anak gadisnya ini belajar nari. Sebuah alasan kenapa Beliau dengan gegap gempita menyuruh anaknya untuk masuk sanggar. Alasannya simple, anak gadisnya terobsesi dengan Doraemon! Lebih parahnya lagi, telah menjadi manusia indoor 24/7. Berteman ? Untuk apa manusia jika ada kucing dan buku. Mungkin lebih sempurna kalau ada doraemon. Selain itu, I hate exercise. Nari kan capek ya… aduuuh, gak deh. Udah paling pas di rumah, adem…
“... Kak, nari sih. Kamu kan suka seni, nari itu menarik banget, bergerak jiwa dan raga.”
Sayangnya, langkah saya menari di usia yang lebih dini langsung terhenti karena dulu dapat guru yang kurang sip, alih-alih menjadi penari, saya malah naruto. Kipas yang saya pegang pada pentas perdana saya, terlepas dari genggaman, terlempar dengan Gerak Parabola Berubah Beraturan, dengan kecepatan horizontal sebesar V0 Cos 𝜃, menimpuk kepala penonton di depan saya.
Setelah pentas itu, Mama saya tersenyum pelan “It’s okay, memang tidak perlu jago di semua bidang kok, Kak” lalu berhenti menyarankan saya menari.
Namun setelah lebih dari dua dekade meninggalkan dunia tari, melihat tari tradisional itu menarik juga ya. Dan jujur aja, sekembalinya ke Indonesia dan menghadapi hiruk pikuk manusia perkotaan, I can’t see why people can enjoy yoga and gym. Padahal tubuh kaku dan otot lemah ini butuh mereka, tapi cih… I can’t! Rasanya mau lari marathon aja. Tidak ada sudut seni dan artistik dari gym… yoga? wah jangan tanya! Gak semua sih, tapi bagi saya, lingkungan yoga itu toxic dan terlalu haus validasi. “Adduuuuhh aku udah lama gak yoga” eh tiba-tiba kayak, head stand, wheel pose. Oh WTF! Sedangkan saya tidak butuh validasi dari arah manapun, saya hanya mau lebih luwes dan flexible aja. I don’t care bisa kayang atau head stand dan gak apa-apa dong kalau saya memang merasa itu gak penting dan tidak membutuhkan itu.
(All yogis out there, please forgive me. Gak semua kok kayak gitu).
Lalu hidayah itu datang, tiba-tiba di suatu kelas yoga, ada Ibu-Ibu yang bilang “Duh, sebenarnya ya, lebih happy dan enak nari loh. Apalagi tari tradisional.”
Saya pun kembali teringat kata Mama, “Nari itu gerakin jiwa dan raga loh, Kak.”
Ok! Good bye yoga!
Dan rupanya menari memang semenyenangkan itu.
Musik, warna-warni dari pakaian daerah, filosofi, ada cerita dari setiap gerakan.
Yang lebih mencengangkan lagi, nari itu CAPEK YA SODARA-SODARA. To be honest, kayaknya saya tuh kurusan banget bukan karena lari, tapi nari.
Bergerak, mikir menyesuaikan gerakan dengan lagu, menghapal, inget formasi dan pola lantai, sungguh sibuk sekali.
Belum lagi nanti kalau pentas, kita juga akan dihadapkan pada dunia yang lebih luas lagi. Make up, kostum, panggung,
sebuah kompleksitas yang berbeda dari dunia apapun yang pernah saya temui. Ada kerja sama tim yang besar sekali di balik sebuah tarian.
Bonus lainnya adalah tentu bertemu teman baru yang, lagi-lagi, berasal dari dunia yang berbeda dari saya. Dan…ini kalian jangan sampe keselek ya : I feel beautiful
Ihiy!
Lalu… Mendayung….
Hal lain yang Mama khawatirkan dari anak gadisnya adalah, saya tidak bisa berenang!
Iya… karena pernah tenggelam di sebuah kolam renang waktu SD, saya akhirnya berhenti berenang sama sekali. Saking parahnya, saya bahkan berhenti mengunjungi daerah pantai. Pokoknya gak deh berenang. Padahal, bagi Mama, berenang itu life skill. Jadi setidaknya harus bisa ngapung.
Tapi sebagai kakak seorang atlet, adik saya juga bilang “Yeeee… renang tuh penting ya, dan enak tau buat active recovery, apalagi kalau lari terus.”
Lagi-lagi, atas nama rasa penasaran kenapa Mama dan adik rekomen hal ini, saya mencoba mengalahkan rasa trauma saya, dan saya pun gas! BERENANG!
Lagi-lagi, hal baru ini mempertemukan saya dengan pelatih yang baik dan komunitas yang menyenangkan. Di renang, justru lebih banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang keep trying to keep fit. Beberapa di antara mereka ada yang pernah punya riwayat stroke, artritis, dan masalah lainnya. Tapi mereka tetap belajar, dan jangan salah… mereka lebih jago daripada saya kemana-mana.
Selama ini, nonton atlet renang yang udah jago rasanya seru dan asik banget, tapi pas ngerasain sendiri! DEEEEM! SUSAH DEMMM!
Lari, sebusuk apapun teknik kalian, kalian masih bisa maju.
TAPI RENANG, ahahahahahaha… kayaknya ini olahraga yang text book banget! Teknik gak oke, ya gak maju-maju. Udah mirip seperti ikan mas di baskom item yang lagi di jual di pasar. Ya menggelepar-gelepar aja, gak maju-maju.
Tapi… once you master it, menyenangkan banget! Parah!
Banyak ilmu baru yang saya pelajari, bukan hanya masalah teknik renang ya… tapi juga hal lain seperti masalah diving, triathlon, kehidupan atlet renang.
Eh, tapi ada satu hal mayor lainnya yang terlewat : Saya kini berani berenang!
Lalu, tiba-tiba, saya menyadari…
rupanya secara perlahan, saya mengerjakan “PR” yang ditinggalkan oleh Mama satu per satu selama 2 dua tahun belakangan, terutama pada tahun 2025 lalu.
Mengingat, mereview, dan menulis ini membuat saya sadar bahwa seorang Ibu memang terus menghidupi anak-anaknya, bahkan ketika dia sudah tiada.
Hati saya penuh…
Terima kasih, Ma.
You know I will shine so much brighter.
























